Pimpin Apel Perdana OPS Ketupat Kapuas 2026, Kaopsda Tekankan Personel Laksanakan Tugas Dengan Penuh Semangat

Pontianak, Kalbar | Mediamabespolri.com Kepolisian Daerah Kalimantan Barat resmi memulai pelaksanaan Operasi Ketupat Kapuas 2026. Hal ini ditandai dengan digelarnya Apel Kesiapan Personel yang berlangsung khidmat di Lapangan Jananuraga Polda Kalbar.Jumat,13/3/2026.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Lalu Lintas Polda Kalbar, Kombes Pol Valentinus Asmoro, S.I.K., M.H., selaku Kaopsda Ketupat Kapuas 2026, dan diikuti oleh seluruh Personel yang terlibat dalam Operasi.

Dalam arahannya, Dir Lantas Polda Kalbar menekankan bahwa Operasi Ketupat Kapuas tahun ini merupakan operasi kemanusiaan yang menitikberatkan pada pelayanan dan pengamanan Masyarakat. Operasi ini dijadwalkan berlangsung selama 13 hari ke depan.

“Laksanakan tugas dengan penuh semangat. Ingatlah bahwa ini adalah operasi kemanusiaan. Kita hadir untuk memastikan Masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujar Valentinus.

Operasi Ketupat Kapuas 2026 ini dilaksanakan selama 13 hari, terhitung mulai tanggal 13 hingga 25 Maret 2026, dengan fokus utamanya untuk memberikan Pelayanan Prima dan menjaga kelancaran arus lalu lintas serta keamanan ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).

“Melalui apel ini, Polda Kalbar memastikan bahwa seluruh sarana, prasarana, dan Personel telah siap siaga sepenuhnya untuk mengawal rangkaian perayaan Idul Fitri di wilayah Kalimantan Barat agar tetap kondusif.” Pungkas Valentinus.

Sumber : Bidhumas

Reporter : Hasan Azzahri

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.