RILIS RESMI POLDA SUMSEL ALTERNATIF HEADLINE : Polda Sumsel-Kejati Sumsel Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Kamtibmas

Mediamabespolri.com

PALEMBANG — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum. menerima lawatan kerja Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Selatan Nurcahyo Jungkung Madyo, S.H., M.H., di Mapolda Sumsel, Selasa (1/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi, koordinasi, dan sinergi antara Polda Sumsel dan Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan sebagai aparat penegak hukum di wilayah Sumatera Selatan.

Pertemuan berlangsung di Ruang Delegasi Lantai 2 Mapolda Sumsel mulai pukul 14.30 WIB hingga selesai. Kajati Sumsel Nurcahyo Jungkung Madyo, S.H., M.H. hadir bersama jajaran pejabat utama Kejati Sumsel.

Kapolda Sumsel Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum. dalam pertemuan tersebut didampingi Wakapolda Sumsel, Irwasda, Dirreskrimum, Dirreskrimsus, Dirlantas, Dir PPA dan PPO, Dirpolairud, serta Kabid Propam.

Sementara itu, Kajati Sumsel Nurcahyo Jungkung Madyo, S.H., M.H. didampingi Wakajati Sumsel Rinaldi Umar, S.H., M.H., Asisten Bidang Intelijen Dr. Mhd Fatria, S.H., M.H., Asisten Bidang Pidana Umum Agustinus Octavianus Mangotan, S.H., M.H., serta para pejabat utama Kejati Sumsel lainnya dari bidang Pidana Khusus, Perdata dan Tata Usaha Negara, Pengawasan, Pemulihan Aset, Pidana Militer, hingga Bagian Tata Usaha.

Nurcahyo Jungkung Madyo, S.H., M.H. resmi menjabat sebagai Kajati Sumsel sejak 11 Agustus 2026. Ia menggantikan Dr. Ketut Sumedana, S.H., M.H., yang mendapat penugasan baru sebagai Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional.

Lawatan kerja tersebut menjadi momentum awal untuk mempererat koordinasi antara Polda Sumsel dan Kejati Sumsel dalam pelaksanaan tugas penegakan hukum. Sinergi antaraparat penegak hukum diperlukan untuk memastikan proses hukum berjalan profesional sekaligus mendukung terciptanya kepastian hukum dan stabilitas keamanan di Sumatera Selatan.

Koordinasi lintas institusi juga menjadi bagian penting dalam mengawal berbagai program pembangunan di daerah. Dengan komunikasi dan kerja sama yang semakin erat, Polda Sumsel dan Kejati Sumsel diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dalam menjalankan tugas sesuai kewenangan masing-masing.

Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H. menegaskan bahwa pertemuan Kapolda Sumsel dengan Kajati Sumsel yang baru mencerminkan soliditas aparat penegak hukum dalam membangun koordinasi dan sinergi di Sumatera Selatan.

“Sinergisitas dan koordinasi yang erat antara Polda Sumsel dan Kejati Sumsel merupakan kunci utama dalam menjamin penegakan hukum yang berkeadilan, cepat, serta transparan. Melalui pertemuan ini, diharapkan kerja sama lintas instansi dalam mengawal berbagai program pembangunan serta menjaga situasi kamtibmas yang kondusif di Bumi Sriwijaya dapat terus ditingkatkan secara optimal,” ujar Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.

Polda Sumatera Selatan memastikan koordinasi dengan Kejati Sumsel dan aparat penegak hukum lainnya akan terus diperkuat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendukung penegakan hukum yang profesional, menjaga stabilitas kamtibmas, serta memberikan kontribusi terhadap terciptanya Sumatera Selatan yang aman dan kondusif.

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.