LSM Semesta NTB Laporkan Proyek Rehabilitasi SMPN 1 Praya ke Kejati, Soroti Peran Dinas Pendidikan

MATARAM, 20 Desember 2025

MEDIAMABESPOLRI.COMLembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Semesta NTB melaporkan hasil pemantauan proyek rehabilitasi ruang kelas SMP Negeri 1 Praya, Kabupaten Lombok Tengah, ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Barat. Laporan tersebut disertai permohonan penyelidikan atas pelaksanaan proyek yang berada di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan setempat.

Ketua LSM Semesta NTB, Indra Wahyudi, mengatakan laporan disampaikan pada 20 Desember 2025 setelah pihaknya menemukan sejumlah catatan selama pemantauan lapangan terhadap proyek yang didanai Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2024 senilai sekitar Rp3,8 miliar.

“Catatan yang kami temukan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan fisik dan pengawasan teknis. Karena proyek ini berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan, maka penting untuk melihat sejauh mana fungsi pengendalian dan pengawasan internal dijalankan,” ujar Indra.

Menurut Indra, proyek strategis di sektor pendidikan seharusnya diawasi secara ketat oleh jajaran struktural, mulai dari kepala dinas hingga pejabat teknis terkait, agar pelaksanaannya sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi teknis.

Ia menilai, lemahnya pengawasan berpotensi menimbulkan persoalan dalam pelaksanaan proyek, meskipun penilaian akhir tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum dan lembaga pengawas.

“Kami tidak menyimpulkan adanya pelanggaran. Namun, laporan ini kami ajukan agar ada pemeriksaan yang objektif dan terbuka, sehingga publik dapat mengetahui apakah fungsi pengawasan oleh dinas telah berjalan sebagaimana mestinya,” kata Indra.

LSM Semesta NTB menyatakan akan terus mengawal proses tindak lanjut laporan tersebut hingga terdapat kejelasan hasil. Menurut Indra, keterbukaan penanganan perkara penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat, khususnya di Lombok Tengah, terhadap pengelolaan anggaran pendidikan.

Sebelum melaporkan ke Kejati NTB, LSM Semesta NTB mengaku telah menyampaikan catatan hasil pemantauan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah, termasuk kepada pejabat terkait. Namun, hingga kini, pihaknya menilai masih diperlukan pendalaman lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah maupun pejabat terkait belum memberikan keterangan resmi. Sumber internal menyebutkan bahwa laporan LSM Semesta NTB masih dalam tahap penelaahan sesuai mekanisme yang berlaku.

Sebagai informasi, proyek rehabilitasi ruang kelas SMP Negeri 1 Praya direncanakan selesai pada akhir 2024 dan digunakan pada tahun ajaran 2024/2025. Selama proses pengerjaan, kegiatan belajar mengajar sementara dialihkan ke ruang alternatif.

 

  • Jurnalis : 54tr1r4
  • Editor: Red|Mediamabespolri

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.