Progres Pesat Pembangunan Jembatan di Aceh, Akses Warga di Desa Segera Pulih.

Aceh – Media-mabespolri.com. Percepatan pemulihan akses arga di Provinsi Aceh terus dilakukan pemerintah. Jembatan menjadi salah satu infrastrktur yang pembangunannya dipercepat. Tidak hanya melibatkan personel TNI dan kontraktor jembatan, warga tampak semangat terlibat dalam percepatan pemulihan akses ini.

Dari pantauan di lapangan pada Minggu (18/1), pengerjaan akses di Kabupaten Bener Meriah, pembangunan Jembatan Bener Pepanyi terus dikebut. Sejumlah personel TNI tampak bergotong royong menyambungkan rangka baja jembatan bailey.

Meski bekerja di bawah terik matahari, para prajurit tetap menunjukkan semangat tinggi. Mereka tak kenal lelah demi memastikan akses transportasi warga segera pulih. Kehadiran jembatan ini sangat dinantikan masyarakat karena menjadi jalur vital penghubung antarwilayah.

Sementara itu, di Kecamatan Telaga Barat, Kabupaten Aceh Singkil, progres pembangunan Jembatan Gosong kian mendekati tahap akhir. Rangka jembatan bailey terlihat telah tersambung dengan baik. Personel TNI bersama warga setempat bergotong royong memasang lempeng baja yang akan menjadi dasar jembatan.Jembatan ini nantinya menggantikan jembatan kayu darurat yang selama ini digunakan warga. Dengan struktur yang lebih kokoh, akses masyarakat diharapkan menjadi lebih aman dan nyaman.

Di Aceh Utara, pembangunan Jembatan Wisata Laut Bangka juga terus berjalan. Personel Babinsa bersama TNI lainnya tampak merangkai besi baja rangka jembatan di depan rumah warga. Mengenakan sarung tangan dan topi pengaman, para prajurit terlihat ceria dan ikhlas membantu pemulihan akses tersebut. Kehadiran TNI di tengah masyarakat tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga menumbuhkan rasa aman dan kebersamaan.

Progres serupa terlihat di Jembatan Seuneubok, Kabupaten Bireuen. Puluhan personel TNI dikerahkan untuk mengerjakan jembatan ini. Dalam prosesnya, alat berat turut digunakan untuk mengangkat besi-besi baja yang telah dirangkai dan akan menjadi rangka utama jembatan. Kolaborasi antara tenaga manusia dan peralatan modern membuat pekerjaan berjalan lebih efisien.

Adapun di Jembatan Lhok Kuyuen, Aceh Utara, pembangunan telah rampung. Saat ini, personel TNI dan warga fokus pada tahap finishing. Mereka mengecat jembatan dengan warna merah putih, sementara warga lainnya memasang bendera di sepanjang jembatan. Pemandangan tersebut mencerminkan rasa bangga sekaligus harapan akan akses yang lebih baik.

Pembangunan jembatan-jembatan ini menjadi bukti nyata sinergi TNI dan masyarakat Aceh. Tak hanya membangun infrastruktur, semangat gotong royong yang terjalin juga memperkuat kebersamaan demi kesejahteraan warga.

(Rep, Welly)

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.