Awak Media Jalin Koordinasi dan Kemitraan dengan Dikbudpora Lombok Utara

Lombok Utara – NTB 

Mediamabespolri.com- Guna membangun koordinasi serta kolaborasi yang baik dan humanis, awak media melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Lombok Utara, Selasa (6/1/2026).

Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara dengan penuh keterbukaan. Dalam kesempatan itu, pihak Dikbudpora secara resmi memberikan surat kemitraan kerja sama kepada awak media sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan peliputan dan penyebaran informasi di lingkungan instansi tersebut.

Tidak hanya bertemu dengan kepala dinas, awak media juga melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kepala Bidang Kebudayaan serta Kepala Bidang Pertanian. Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dan saling bertukar pandangan terkait program-program pemerintah daerah.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala Bidang Pertanian menyampaikan sejumlah upaya strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Salah satu langkah yang dibahas adalah penyaluran bantuan bibit pertanian serta bantuan alat semprot, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Melalui pengalokasian bantuan bibit dan sarana pendukung pertanian, diharapkan kesejahteraan petani di Kabupaten Lombok Utara dapat terus meningkat,” ujarnya.

Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin sinergi yang berkelanjutan antara awak media dan Dikbudpora Lombok Utara dalam mendukung keterbukaan informasi publik serta penyampaian informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat.

 

  • Reporter: Sabdanom
  • Editor:Red|Mediamabespolri

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.