Warga RT 04 RW 06 Memperbaiki Pundasi Cor Beton Sungai Kelekar Di kelurahan Majasari, Dengan Dananya Sendiri. 

Prabumulih (Sumsel)

Mediamabespolri.com

 

 

“Bangunan Pondasi Cor beton permanen yang berdiri di atas Sungai Kelekar, Kalurahan Majasasi, Prabumulih Selatan,Kota Prabumulih. Minggu 24 Agustus 2025

 

 

“Sudah ampir roboh semua pondasi cor beton. Tinggal Masyarakat yang susah. sudah lama pondasi cor beton ini roboh, tapi bantuan belum juga ada dari Pemerintah atau pun bantuan dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR Kota Prabumulih. ucap warga

 

Salah satu masyarakat majasari yang terkena insiden roboh pundasi cor beton tersebut, menjelaskan pondasi tersebut sempat sudah diajukan tetapi tak datang-datang meski telah dicoba berulang kali kami meminta bantuan tersebut.

 

 

Situasi ini akhirnya mendorong warga untuk memperbaiki sendiri dari pada roboh serta rumah lebih baik kami berusaha sendiri, memperbaiki sendiri dari pada menunggu bantuan dari Pemerintah ataupun bantuawan Dewan Perwakilan Rakyat DPR, tuturnya

 

 

“Ya ini salah satu cara kami, mungkin akhirnya kami bisa buat agar rumah kami tidak roboh membuat pondasi sendiri tapi ini hanya terbatas rumah kami saja, Pungkas

 

Kami sebagai kontrol sosial bagi masyarakat yang tidak didengar agar bisa di dengar, dan yang tak terlihat menjadi terlihat, semoga kedepannya bisa lebih mementingkan masyarakat yang lagi membutuhkan bantuan tersebut, Tutup

 

*Redaksi//*

*Mediamabespolri.com//*

*Polri Untuk Masyarakat//*

*Tim Redaksi Am//*

 

 

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.