Jalan Desa Tambang Kelekar Kecamatan Gelumbang Diduga Menggunakan Adukan Muda Terlihat Jelas Dan Tidak Transparan Publik

Jalan Desa Tambang Kelekar Kecamatan Gelumbang Diduga Menggunakan Adukan Muda Terlihat Jelas Dan Tidak Transparan Publik

 

Gelumbang (Sumsel)

Mediamabespolri.com

 

 

01 Sep 2025,’ Proses pembangunan jalan cor beton berskala Desa, sangat perlu diperhatikan hal-hal yang bersifat teknis. Hal ini tidak boleh diabaikan, karena akan ber’akibat fatal dan jadi penyebab kurangnya kualitas dari hasil cor beton tersebut.

 

 

Kita lihat pembangunan cor beton di setiap desa rawan rusak sebelum waktu yang seharusnya, dikarenakan tatacara hal ini akibat pada proses pembuatan jalan Cor nya Melenceng daripada Maksimal yang ada.

 

Warga Kecamatan Desa Tambang Kelekar Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan,

Meminta kepada wartawan komfirmasi kepihak pekerja jalan di desanya,

dan pertanyakan hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan cor beton , agar jalan cor beton Desa nya kuat dan tahan lama,ujarnya

 

Saat tim Media mendatangi proyek tersebut masuk spesifikasi Muda sekali jalan cor beton kurang lebih 200 Meter tersebut,  adukan menggunakan pola yang tidak benar yakni satu zak semen, dua koral dan tiga pasir.

 

Selain itu, posisi terepal untuk cor beton tidak mudah retak ditengah , tidak memakai terepal disambung nya dengan cor muda dan ketebalan nya juga meragukan.

Bukan itu saja, pelaksanaan proyek juga harus dilengkapi dengan papan proyek yang berisi tentang informasi pelaksanaan proyek tersebut.pungkas Media

“Sebelum pelaksanaan dan selama kegiatan pembangunan berlangsung, harus dipasang papan proyek dan disitu mencantumkan nama proyek, nama pelaksana, lokasi dan nilai proyek serta ditempatkan dilokasi yang mudah dilihat oleh masyarakat,” jelasnya.

 

Agar adanya ketransparanan dalam pelaksanaan kegiatan proyek itu, maka proyek cor beton jalan itu tidak dibilang siluman dan pemborong nya tidak korupsi,, atau mengambil keuntungan Besar,. pungkasnya

 

Redaksi

Mediamabespolri.com

Tim Redaksi

Polri Untuk Masyarakat

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.