Pangdam I/BB Tinjau Kedatangan Bantuan Kasad untuk Korban Bencana Alam di Pelabuhan Belawan 

Belawan, –Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa meninjau langsung kedatangan bantuan dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang diangkut menggunakan Kapal ADRI LIII di Dermaga 202 Ujung Baru, Pelabuhan Belawan, Senin (12/1/2026).

Kedatangan bantuan Kasad tersebut merupakan bagian dari dukungan TNI AD dalam mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara, khususnya di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, serta Kabupaten Tapanuli Selatan. Pangdam I/BB menyampaikan, Kodam I/Bukit Barisan menerima bantuan tersebut sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Kasad terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah yang terdampak bencana pada November lalu.

Menurut Pangdam, saat Kasad melakukan kunjungan ke wilayah Tukka beberapa hari lalu, masih ditemukan banyak sampah serta material sisa banjir bandang yang belum tertangani secara maksimal. Kondisi itu mendorong Kasad mendatangkan sejumlah alat berat guna mempercepat pembersihan dan pemulihan wilayah terdampak, termasuk rencana pembangunan kembali jalan dan jembatan yang terputus agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Adapun bantuan yang diberikan Kasad meliputi 4.500 pcs T-shirt lengan panjang, 300 bag tenda serba guna, dua unit ekskavator, dua unit buldoser, serta empat unit kendaraan water treatment (RO) berupa mobil penjernih air siap minum. Seluruh bantuan tersebut akan difokuskan untuk mendukung percepatan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak.

Sebanyak 10 unit dump truck akan diberangkatkan melalui jalur darat menuju Kecamatan Tukka, sementara bantuan lainnya juga disalurkan melalui jalur udara untuk menjangkau daerah-daerah yang masih terisolasi. Kegiatan peninjauan ini turut dihadiri Kasdam I/BB, Asops Kasdam I/BB, Kazidam I/BB, Dandim 0201/Medan, Waasops Kasdam I/BB, serta Wakabekangdam I/BB.

Redaksi//Mat Sukeni 

Mediamabespolri.com

(Pendam I/BB)

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.