Resmikan Enam Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Jayanti, Bupati Tangerang Perkuat Fondasi Ekonomi Rakyat

WWW.MEDIAMABESPOLRI.COM.

Kabupaten Tangerang, Banten — Pemerintah Kabupaten Tangerang terus mendorong penguatan ekonomi berbasis desa. Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, meresmikan enam gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) se-Kecamatan Jayanti, Senin (29/12/2025).

Peresmian ini sekaligus menandai dimulainya operasional koperasi desa sebagai wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
Enam gerai KDMP yang diresmikan masing-masing berada di Desa Jayanti, Desa Cikande, Desa Pasir Muncang, Desa Sumur Bandung, Desa Pabuaran, dan Desa Pasir Gintung.

Sementara itu, dua desa lainnya, yakni Desa Dangdeur dan Desa Pangkat, telah lebih dahulu meresmikan gerai KDMP beberapa bulan sebelumnya.
Dalam sambutannya, Bupati Maesyal Rasyid menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih merupakan salah satu instrumen strategis pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, khususnya di wilayah pedesaan.

“Hari ini kami meresmikan sekaligus memulai operasional Koperasi Desa Merah Putih se-Kecamatan Jayanti. Koperasi ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Maesyal Rasyid.
Menurutnya, koperasi desa memiliki peran penting sebagai wadah usaha bersama yang dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan anggota. Melalui KDMP, masyarakat desa diharapkan dapat mengakses berbagai kebutuhan usaha, permodalan, hingga distribusi produk lokal secara lebih mudah dan terjangkau.

Bupati juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, serta pengurus koperasi agar KDMP dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Koperasi tidak boleh hanya berdiri secara administratif, tetapi harus benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya oleh warga. Karena itu, pengelolaan yang baik dan pengawasan yang berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.

Peresmian enam gerai KDMP tersebut turut dihadiri oleh Camat Jayanti, Asisten Daerah II Kabupaten Tangerang, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, serta para kepala desa se-Kecamatan Jayanti. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pengembangan koperasi desa sebagai pilar ekonomi lokal.

Camat Jayanti dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Kabupaten Tangerang terhadap penguatan ekonomi desa di wilayahnya. Ia berharap seluruh gerai KDMP yang telah diresmikan dapat dikelola secara optimal dan menjadi contoh bagi desa-desa lain.

Pemerintah Kabupaten Tangerang menargetkan Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya berfungsi sebagai unit usaha, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kapasitas masyarakat desa, termasuk dalam pengelolaan keuangan, kewirausahaan, dan pemasaran produk unggulan desa.

Dengan diresmikannya enam gerai KDMP di Kecamatan Jayanti, Pemkab Tangerang optimistis program koperasi desa dapat menjadi salah satu solusi nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Editor,”( Ahmad S.A Kaperwil MMP Banten ).

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.