Dandim 1205/Sintang Tinjau Progres TMMD Ke-125 di Desa Sungai Pengga

Mediamabespolri.com // Sintang – Komandan Kodim 1205/Sintang, Letkol Inf Rangga Bayu Widiartha, melakukan peninjauan langsung terhadap progres pengerjaan fisik dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 di Desa Sungai Pengga, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (1/8/2025).

Dalam kunjungannya, Dandim didampingi oleh Pasiter Kodim 1205/Sintang, Kapten Inf H. Didik HP, perwakilan pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat setempat. Tujuan peninjauan ini adalah untuk memastikan bahwa seluruh pekerjaan di lapangan berjalan lancar dan sesuai dengan rencana.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap tahapan berjalan tepat waktu dan sesuai standar. TMMD ini adalah bentuk nyata kepedulian TNI terhadap pembangunan di desa,” ujar Letkol Inf Rangga Bayu Widiartha.

Selama di lokasi, Dandim mengunjungi beberapa titik sasaran, seperti pembangunan jalan penghubung antar dusun, perbaikan jembatan, dan pembangunan fasilitas umum lainnya. Ia juga berdialog dengan warga dan perangkat desa untuk menyerap aspirasi serta mendapatkan masukan terkait kegiatan TMMD.

Dandim menekankan bahwa dukungan dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini. “Keterlibatan aktif masyarakat menunjukkan bahwa TMMD memang sangat dibutuhkan dan mendapat sambutan positif,” tambahnya.

TMMD ke-125 ini tidak hanya meliputi pembangunan fisik, tetapi juga kegiatan non-fisik seperti penyuluhan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan masyarakat. Harapannya, semua kegiatan ini bisa memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi warga Desa Sungai Pengga dan sekitarnya.

Dengan peninjauan ini, Dandim berharap program TMMD dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Red/Stephanus

Sumber : Pendim1205

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.