*Semarak Pawai Ogoh-Ogoh Di Poso Pesisir Utara Disertai Pengawalan Polisi*
*Semarak Pawai Ogoh-Ogoh Di Poso Pesisir Utara Disertai Pengawalan Polisi*

Poso Pesisir Utara/ Poso, SulTeng
Mediamabespolri.com// Seperti biasanya menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, umat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh di beberapa desa di Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, pawai ogoh-ogoh tahun ini di laksanakan. Rabu (18/3/2026)
Pawai ogoh-ogoh dilaksanakan di beberapa desa, di antaranya Desa Tobe, Desa Bakti Agung, Desa Tambarana, dan Desa Maranda berlangsung sangat meriah dan mendapat pengamanan ketat dari kepolisian.
Hasil pantauan jumlah peserta yang terlibat sekitar 400 orang di Desa Tobe, 500 orang di Desa Bakti Agung, 500 orang di Desa Tambarana, serta 200 orang di Desa Maranda. Semuanya melintasi jalan trans Sulawesi sebelum di lakukan pembakaran perangkat pawai tersebut di pekuburan. Antusiasme masyarakat ini menjadi perhatian khusus aparat keamanan, mengingat potensi kerawanan seperti kemacetan, kecelakaan lalu lintas, hingga gangguan kamtibmas.

Memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, pengawalan dilakukan secara ketat oleh personel Polsek Poso Pesisir Utara dipimpin langsung oleh Kapolsek Poso Pesisir Utara Iptu I Kadek Agus Hermanta, S.H. Pengamanan juga melibatkan unsur Pramuka SMU 1 Poso Pesisir Utara, Linmas, serta Pecalang sebagai pengamanan adat.
Kapolsek Poso Pesisir Utara Iptu I Kadek Agus Hermanta, S.H. menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan secara terpadu, mulai dari pengaturan arus lalu lintas hingga pengawasan jalannya pawai di setiap titik keramaian.

“Kami menempatkan personel di sepanjang rute pawai, khususnya di jalur Trans Sulawesi, untuk mengantisipasi kemacetan dan mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Selain itu, kami juga melakukan patroli dan monitoring guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Lebih lanjut, kata Kapolsek Iptu I Kadek Agus Hermanta pihaknya telah melakukan langkah-langkah preventif melalui koordinasi dengan panitia, tokoh agama, serta penyelenggara di masing-masing desa sebelum kegiatan dilaksanakan.
“Kami juga mengimbau kepada seluruh peserta dan masyarakat agar tetap tertib, tidak menggunakan petasan secara berlebihan, serta mengutamakan keselamatan, baik bagi peserta pawai maupun pengguna jalan lainnya,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan pawai ogoh-ogoh berakhir pada pukul 20.30 Wita dengan prosesi pembakaran ogoh-ogoh sebagai simbol penyucian diri dari energi negatif. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung aman, lancar, dan kondusif berkat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat.
Dengan pengamanan yang optimal, perayaan ini tidak hanya menjadi wujud pelestarian budaya dan tradisi, tetapi juga mencerminkan kerukunan serta kebersamaan di tengah masyarakat Poso Pesisir Utara (H-hpp)
Redaksi Biro Investigasi Nasional
Obeth Kapita






