*Air Terjun Salopa “Suara Gemuruh kini Sayup-sayup Terdengar” Bukti Kerusakan Hutan Sudah Parah Dihulu Sungai*
*Air Terjun Salopa “Suara Gemuruh kini Sayup-sayup Terdengar” Bukti Kerusakan Hutan Sudah Parah Dihulu Sungai*
Kades Wera: “Demi kelestarian air terjun Salopa kami berharap instansi terkait untuk bertindak tegas”

Tentena,Poso- Sulteng (09/4/2026) Mediamabespolri.com Air Terjun Salopa atau Wera terletak ditepi hutan, di tempuh sekitar waktu 30 menit dari kota Wisata tentena kabupaten Poso Sulteng. Satu-satunya air terjun tercantik di pulau sulawesi. Melihatnya seperti membayangkan juntaian permadani dengan kilauan butiran-butiran yang tergantung kaki gunung
Air terjun yang memiliki 12 tingkap ini, setiap tingkap terbentuk kolam alami memberikan keindahan tersendiri airnya hampir tidak pernah keruh ini mengalir dari hulu puncak gunung Tangkumbolonci ke hilir sampai ke Danau Poso.
Dalam catatan sejarah misionaris Dr Nikolas Adriani tahun 1912, sebelah utara Gunung Tangkumolonci merupakan jalur jalan menuju lembah Bada dan Napu terdapat persimpangan menuju Poso Pesisir. Jika di telusuri jalur jalan ini bisa menjadi jalur trecking yang sangat menantang menjadi favorit pencinta alam.
Amat di sayangkan hulu sungai sumber mata air sungai Salopa telah di rusak di jadikan area kebun dan pembalakan liar yang di sorot wakil Ketua I DPRD Poso Sesi Kd Mapeda, SH, MH dalam tulisan “Suara gemuruh menjadi sayup-sayup”
Kepala desa Wera Johan Dangka yang di konfirmasi Mediamabespolri.com
tentang kerusakan hutan dihulu air terjun Saluopa mengatakan oknum yang merusak hutan dihulu sungai Salopa bukan warga desa Wera tapi warga dari luar. Dan kondisi ini kami telah laporkan dan dinas kehutanan kabupaten Poso telah turun ke lokasi perusakan hutan. ungkapnya.
Menurut Kades Johan Dangka “sepertinya ada pembiaran perombakan hutan di hulu sungai Salopa, kami berharap tim terpadu dari dinas kehutanan,pariwisata, aparat penegak hukum bahkan DPRD Poso sudah perlu turun langsung dihulu sungai Salopa untuk memastikan tapal batas permanen yang harus di lindungi oleh seluruh masyarakat di seputaran desa Wera” ungkapnya.
Terkait upaya pemerintah desa Wera menurut Kades Johan Dangka pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak dinas Pariwisata, dinas kehutanan. Camat Pamona Pusalemba serta instansi terkait untuk melakukan monitor di area perombakan pada tanggal 13 April 2026. “Saya berharap dari hasil monitoring langsung nanti ada tindakan tegas dan nyata terhadap oknum yang melakukan perombakan hutan di sepanjang hulu sungai Salopa” tegasnya
Camat Pamona Pusalemba Rafli Tongku SH, yang dikonfirmasi Mediamabespolri.com mengatakan
“Kami sudah mengadakan rapat yang melibatkan pemdes 3 desa yaitu desa Tonusu, Wera dan Leboni, tokoh-tokoh masyaraka Polsek dan Koramil juga dihadiri oleh dinas pariwisata jg kehutanan dan pihak terkait lainnya.
Tindak lanjut nya kami akan turun lapangan bersama Tim gabungan pada hari Senin untuk mencari fakta dan langsung tindakan dilapangan” tegasnya
Adris Ntaba pemerhati air terjun Salopa pada media ini mengatakan hasil pantauannya kerusakan hutan di hulu sungai Salopa sudah mencapai tingkat memprihatinkan, kami telah melaporkan ke instansi terkait termasuk dinas pariwisata dan kehutanan Poso agar situasi ini segera di hentikan dan dibenahi kembali melalui reboisasi. “kawasan Air terjun Salopa butuh perlindungan hukum agar areanya di lestarikan, dan ini menjadi kewajiban seluruh warga desa Wera, Leboni dan Tonusu” tutupnya.
Redaksi Biro Investigasi Nasional
Obeth Kapita




