Yayasan Gemilang Sakti Jaya Gandeng Polres Dan MUI Padang Lawas Sosialisasikan Pembinaan Korban Narkoba.

Palas , Sumut
| Mediamabespolri.com // Dalam upaya berantas penyalahgunaan narkotika, Yayasan Rehabilitasi Gemilang Sakti Jaya Desa Sigorbus Julu telah meluncurkan program rehabilitasi sosial bagi Warga Binaan kasus narkotika. Program ini dijalankan dengan menggandeng Polres Padang Lawas dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padang Lawas, Yayasan Gemilang Sakti Jaya adalah sebuah lembaga Rehabilitasi Narkoba berlokasi di Desa Sigorbus Jaya Kecamatan Barumun Raya yang fokus pada pemulihan dan pemberdayaan kesehatan bagi para korban adiksi, dengan membawa tema : “Peran Agama Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba”.

Kapolres Padang Lawas AKBP Dodik Yulianto S.IK melalui Kasat Binmas AKP G.Harahap mengatakan, langkah ini merupakan komitmen dalam memberikan pembinaan komprehensif kepada para korban pengguna Narkoba, khususnya mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan narkotika. “Kami percaya rehabilitasi sosial menjadi kunci penting dalam mengurangi angka residivisme dan membantu para Warga Binaan untuk dapat kembali berintegrasi ke masyarakat dengan lebih baik setelah mereka bebas,” ujarnya, Rabu (18/2/26).

Program ini tidak hanya berfokus pada penanganan medis terkait adiksi, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan edukatif, konseling psikologis, dan pelatihan keterampilan.

Bersama dengan Polres Padang Lawas, Yayasan Gemilang Sakti Jaya telah merancang modul pelatihan khusus yang menggabungkan aspek terapi kesehatan dengan pemberdayaan individu sehingga Warga Binaan tidak hanya pulih dari kecanduan, tetapi juga memiliki bekal untuk kehidupan yang lebih produktif setelah masa hukuman.

Pembina Yayasan Gemilang Sakti Jaya, Parnis Siregar menyampaikan, kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas hidup para Warga Binaan melalui pendekatan rehabilitasi yang holistik. “Kami menyediakan layanan yang mencakup pendampingan psikososial dan pendidikan kesehatan tentang bahaya narkotika. Dengan pendekatan ini, kami berharap bisa membantu mereka untuk sembuh dari ketergantungan dan memperbaiki kualitas hidup mereka,” harapnya.

Sejauh ini, program rehabilitasi sosial ini telah diikuti oleh puluhan Warga Binaan yang secara sukarela mengikuti proses rehabilitasi. Keberhasilan program ini diharapkan mengurangi angka penyalahgunaan narkotika di Lapas Bengkulu dan menjadi model bagi Lapas lainnya dalam menangani permasalahan serupa.

Selain rehabilitasi, Yayasan Gemilang Sakti Jaya juga terus melakukan sosialisasi kepada Warga Binaan mengenai pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkotika dan dampaknya terhadap kehidupan mereka. Program ini diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam menekan angka penyalahgunaan narkoba, baik di dalam maupun luar Yayasan Gemilang Sakti Jaya.

Melalui program ini, Yayasan Gemilang Sakti Jaya ingin menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang lebih sehat dan aman sekaligus memberi peluang bagi para narapidana untuk membangun masa depan yang lebih baik tanpa bayang-bayang narkoba.

Lanjut Parnis Siregar, Fokus utama sosialisasi ini adalah mengubah stigma, mengedukasi keluarga, dan mendorong korban untuk mengikuti rehabilitasi medis maupun sosial agar pulih dan produktif kembali.

Sementara Ketua MUI Padang Lawas Dr.H.Ismail Nasution Lc, M.Sy dalam arahannya mengungkapkan, peran MUI dalam pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba adalah memiliki peran krusial dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, terutama melalui pendekatan moral, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Wahyu p Siregar
kabiro Palas

You may have missed

*Ekspor Industri Menguat, Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 3,70 Miliar hingga Juli 2026* _Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI_ Jakarta, 1 September 2026 – Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,70 miliar. Capaian tersebut antara lain ditopang oleh surplus perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai USD 0,12 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas. “Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari sampai Juli 2026 masih mengalami surplus sebesar USD 3,70 miliar,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/9). Ateng menjelaskan, surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 18,75 miliar. Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 mencapai USD 167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi USD 160,01 miliar. Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, atau tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 40,62 miliar atau sekitar 25,39 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 19,19 miliar atau 11,99 persen, disusul India sebesar USD 11,00 miliar atau 6,87 persen. Di tengah pertumbuhan ekspor tersebut, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup kuat. Nilai impor kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat sebesar USD 163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor berasal dari kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,78 persen menjadi USD 137,56 miliar, sedangkan impor migas melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar. Berdasarkan penggunaannya, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen impor terbesar dengan nilai mencapai USD 116,70 miliar atau meningkat 20,42 persen. Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar USD 32,46 miliar atau naik 20,00 persen, sedangkan impor barang konsumsi mencapai USD 14,16 miliar atau tumbuh 16,03 persen. Tiongkok juga masih mendominasi sebagai negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 58,29 miliar atau 42,38 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD 7,71 miliar atau 5,61 persen, disusul Australia sebesar USD 6,47 miliar atau 4,70 persen. Ateng menambahkan, surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Juli 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. “Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 20,96 miliar,” tambah Ateng. Selanjutnya, surplus juga berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 16,39 miliar, besi dan baja USD 10,32 miliar, nikel dan barang daripadanya USD 7,08 miliar, serta alas kaki sebesar USD 3,84 miliar.