Kerajaan Siren Di Desa Siren, Seteluk Kemutar Telu, Bahas Pengukuhan Situs Sejarah Bersama Pihak Terkait

Mediamabespolri.Com, Taliwang,ntb, 29 April 2026 – Kerajaan Siren yang terletak di Desa Siren, Kecamatan Seteluk Kemutar Telu, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menjadi pusat perhatian dalam pertemuan penting yang digelar di ruang pertemuan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat, hari ini Rabu (29/4/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan instansi, ahli budaya, tokoh adat, serta perwakilan masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian warisan sejarah dan budaya daerah.

Hadir secara langsung dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Azizuddin, serta ahli budayawan KSB, Wahyu Sunan Kalimati. Turut mendampingi, Abdul Gani S.Pd, Kepala Bidang Kebudayaan Suarman, dan sejumlah pejabat teknis lainnya.

Keberadaan tokoh adat dan budaya juga menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini, di antaranya Samol yang menjabat sebagai Ketua Adat Kebudayaan KSB sekaligus merupakan keluarga keturunan dan ahli waris Kerajaan Islam Siren. Kehadiran Samol menjadi jembatan penting yang menghubungkan nilai-nilai sejarah, tradisi, dan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah. Selain itu, turut hadir pula tokoh masyarakat dari Desa Seteluk Kemutar Telu yang mewakili suara dan harapan warga setempat.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi NTB menyampaikan uraian, penjelasan dan informasi secara jelas, rinci serta terbuka kepada seluruh hadirin, khususnya bagi masyarakat Desa Siren dan sekitarnya. Penyampaian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang sama terkait status, nilai sejarah, serta langkah-langkah yang telah dan akan diambil untuk melindungi warisan budaya tersebut.

Salah satu poin utama yang dibahas adalah mengenai Makam Siren yang berlokasi di Desa Siren, Kecamatan Seteluk Kemutar Telu. Makam ini dinyatakan sebagai situs sejarah dan budaya yang memiliki nilai sangat penting dan strategis, baik bagi sejarah daerah maupun nasional.

“Makam ini dipercaya secara turun-temurun dan berdasarkan penelitian serta dokumentasi yang ada, merupakan tempat peristirahatan terakhir para Raja Siren yang pernah memerintah dan memimpin wilayah ini pada masanya. Peran serta jasa mereka dalam membangun dan memajukan daerah menjadikan situs ini memiliki makna sejarah yang tak ternilai harganya,” ungkap salah satu narasumber dalam pertemuan tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan, situs ini sebenarnya telah mendapatkan pengakuan resmi baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sejak tahun 2010. Namun, upaya untuk melanjutkan proses pengukuhan, penetapan status, serta perlindungan dan pengembangannya kembali digalakkan dan diusulkan ulang, menyusul inisiatif dan keinginan kuat dari pihak ahli waris Kerajaan Islam Siren serta dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.

Semua pihak yang hadir sepakat bahwa situs bersejarah ini perlu segera mendapatkan perhatian serius dan tindak lanjut berupa proses pengukuhan serta perlindungan hukum selanjutnya. Hal ini agar warisan budaya tersebut dapat terjaga kelestariannya, tidak punah dimakan zaman, serta dapat dikelola dengan baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun mendatang, sekaligus menjadi aset potensial untuk pengembangan sektor budaya dan pariwisata daerah.

Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, demokratis dan penuh semangat kebersamaan. Seluruh pihak berkomitmen untuk bersinergi, bahu-membahu dalam memperjuangkan dan melestarikan warisan sejarah yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat Sumbawa Barat ini.

Redaksi: Kabiro KSB Media Mabes Polri Nasional
Penanggung Jawab: Harmiati
Sumber: Liputan Langsung Kantor Dikbud KSB
Tanggal Terbit: 29 April 2026