Dugaan Keracunan MBG di Brang Rea Kembali Jadi Sorotan
Dugaan Keracunan MBG di Brang Rea Kembali Jadi Sorotan.

NTB mediamabespolri.comPublik Pertanyakan Pengawasan Vendor dan Distribusi Program
Kabupaten Sumbawa Barat kembali menjadi perhatian publik terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), setelah muncul pertanyaan masyarakat mengenai dugaan insiden keracunan yang disebut memiliki kemiripan dengan kasus yang pernah terjadi pada tahun 2025 di Pondok Pesantren Himmatul Ummah, Kecamatan Brang Rea.
Kasus dugaan keracunan makanan tersebut sebelumnya sempat menghebohkan masyarakat karena melibatkan puluhan hingga ratusan santri dan siswa yang mengalami gejala mual, muntah, hingga pusing usai menyantap makanan MBG yang disalurkan oleh dapur penyedia makanan di wilayah Brang Rea.
Berdasarkan sejumlah laporan media pada tahun 2025, insiden tersebut diduga berasal dari makanan MBG yang awalnya diperuntukkan bagi sekolah lain, namun kemudian dialihkan ke Pondok Pesantren Himmatul Ummah karena makanan tidak sempat dibagikan kepada siswa penerima utama.
Setelah dikonsumsi, sejumlah santri dilaporkan mengalami gejala keracunan dan harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Brang Rea.
Masyarakat Pertanyakan Distribusi MBG di Brang Rea
Saat ini masyarakat mulai mempertanyakan jumlah titik MBG yang aktif di Kecamatan Brang Rea, mengingat masih terdapat beberapa sekolah yang disebut belum mendapatkan distribusi program MBG secara merata.
Belum ada keterangan resmi terbaru yang menjelaskan secara rinci berapa jumlah dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif beroperasi di wilayah tersebut pada tahun 2026.
Namun, muncul dugaan di tengah masyarakat bahwa sebagian sekolah maupun wali murid menjadi lebih berhati-hati pasca insiden dugaan keracunan pada tahun sebelumnya.
Sejumlah pihak juga mempertanyakan apakah terdapat penolakan dari sekolah atau orang tua murid terhadap program MBG akibat trauma atas kasus yang pernah terjadi pada 2025.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun pemerintah daerah terkait dugaan adanya penolakan tersebut.
Operasional Vendor dan Dapur MBG Sempat Dihentikan
Dalam pemberitaan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama pihak terkait disebut telah mengambil langkah cepat dengan melakukan evaluasi terhadap vendor dan dapur penyedia MBG yang diduga menjadi sumber permasalahan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Barat ketika itu menyampaikan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengeluarkan surat penghentian operasional sementara terhadap salah satu SPPG milik Yayasan Samawi Cahaya Ummat (YSCU) di Brang Rea Tepas sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Selain itu, dapur penyedia MBG lainnya yakni UD Nabila Erni juga sempat direkomendasikan untuk dihentikan sementara operasional penyaluran MBG sambil menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi dari pihak terkait.
Pihak kepolisian dan tim kesehatan saat itu juga melakukan pengambilan sampel makanan guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan yang terjadi.
Evaluasi Nasional Program MBG
Secara nasional, program MBG memang sempat menjadi perhatian publik sepanjang tahun 2025 akibat sejumlah kasus gangguan pencernaan dan dugaan keracunan di berbagai daerah di Indonesia.
Data Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan ribuan kasus gangguan pencernaan terkait MBG sempat tercatat sejak program tersebut berjalan pada Januari 2025.
Pemerintah pusat mengakui masih terdapat kekurangan terutama pada aspek sanitasi, pengolahan makanan, distribusi, serta pengawasan dapur penyedia makanan dalam skala besar.
Hingga kini masyarakat berharap pengawasan terhadap vendor, kualitas bahan makanan, kebersihan dapur, hingga proses distribusi MBG dapat diperketat agar program yang bertujuan meningkatkan gizi anak bangsa tersebut benar-benar berjalan aman dan tepat sasaran.
Syamsuddin Ar






