Suara Kritis Mahasiswa di Reses: “Pak Dewan, Tolong Evaluasi Gaji Guru Honorer dan Pegawai MBG!”
JEMBER, MEDIAMABESPOLRI.com – Suasana hangat terasa di sebuah kediaman di Jalan Pattimura No. 46, Desa Kalisat, pada Rabu sore, 11 Maret 2026. Tepat pukul 16.00 WIB, Candra Ary Fianto, S.T., Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember dari Fraksi PDIP, membuka pintu rumah untuk menerima warga Kecamatan Kalisat dalam agenda reses masa persidangan I tahun 2026.
Berbeda dengan suasana formal di gedung dewan, sore itu Candra yang dikenal sebagai ketua komisi yang membidangi infrastruktur dan perekonomian ini tampak santai namun serius mendengarkan satu per satu warganya. Dengan latar belakang kursi-kursi sederhana yang diisi puluhan konstituen, pria yang karib disapa Candra ini menyapa hangat para hadirin yang datang.
“Ini tugas kami di luar gedung, Pak, Bu. Saatnya kami mendengar, bukan bicara. Apalagi saya di Komisi B yang mengurusi jalan, irigasi, dan ekonomi rakyat. Maka dari itu, soal begini harus saya dengar langsung dari Bapak Ibu,” ucapnya membuka diskusi.
Para warga pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Seorang warga memanfaatkan momen ini untuk menanyakan ketersediaan bantuan bibit gratis untuk tanaman pangan dan holtikultura, sementara pelaku UMKM setempat bertanya soal program bantuan modal dan pelatihan. Suasana diskusi yang awalnya hangat berubah ketika seorang pemuda yang tak lain adalah mahasiswa asal Desa Kalisat, Leo, mengacungkan tangan dan angkat bicara dengan nada tegas.
“Selamat sore Pak Candra. Saya Leo, mahasiswa asal sini. Saya ingin menanyakan soal isu yang sedang ramai di luar, Pak. Soal gaji. Saya dengar-dengar karyawan program Makan Bergizi Gratis (MBG) digaji lebih besar dari guru honorer. Apakah itu benar, Pak? Kok bisa karyawan MBG lebih besar dari guru honorer yang setiap hari mengajar anak-anak kita? Sebagai mahasiswa, saya merasa prihatin dan ingin minta penjelasan dari Komisi B,” tanya Leo dengan lugas dan kritis, mewakili kegelisahan generasi muda akan keadilan anggaran.
Pertanyaan kritis dari kalangan mahasiswa itu sontak membuat hadirin lainnya ikut menyimak dan beberapa di antaranya mengangguk setuju. Sebagai Ketua Komisi B yang membidangi perekonomian dan anggaran, Candra mengakui bahwa persoalan ini sedang menjadi sorotan publik, termasuk di kalangan akademisi.
“Mas Leo, pertanyaan yang sangat bagus dan kritis. Terima kasih sudah menyuarakan kegelisahan mahasiswa dan masyarakat. Saya akui, ini memang sedang jadi perbincangan hangat di mana-mana,” ujar Candra membuka jawabannya.
Ia menjelaskan, “Sepengetahuan saya, struktur gaji dalam program MBG memang dirancang cukup kompetitif karena melibatkan tanggung jawab logistik, kebersihan, dan ketepatan waktu untuk ribuan porsi makanan. Namun, saya sepakat dengan Mas Leo, jangan sampai justru terjadi ketimpangan yang mencederai rasa keadilan, terutama bagi guru honorer yang merupakan pahlawan pendidikan tanpa tanda jasa.”
Candra menegaskan komitmennya untuk membawa persoalan ini ke tingkat pembahasan yang lebih serius. “Sebagai Ketua Komisi B, saya akan memastikan evaluasi ini masuk dalam pembahasan kami dengan mitra kerja, termasuk Dinas Pendidikan dan pihak terkait. Jangan sampai program yang tujuannya mulia untuk gizi anak ini justru menimbulkan masalah baru, yaitu kecemburuan sosial di sektor pendidikan. Masukan dari Mas Leo ini sangat berharga, sebagai representasi suara muda yang kritis. Ini catatan penting, akan saya perjuangkan.”
Menutup diskusi, Candra kembali menegaskan komitmennya, “Insyaallah, apa yang Bapak Ibu sampaikan hari ini, mulai dari bantuan bibit gratis, bantuan UMKM, hingga yang disampaikan Mas Leo tadi, akan saya perjuangkan di Komisi B. Terkait program ketahanan pangan dan keadilan anggaran, ini semua menjadi ranah kami. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi,” tegasnya disambut tepuk tangan meriah dari warga yang hadir.
Menjelang maghrib, suasara kebersamaan semakin terasa ketika seluruh tamu undangan dan tuan rumah menyiapkan hidangan berbuka. Candra bersama warga duduk berdampingan, menikmati takjil sederhana sambil menunggu azan maghrib berkumandang. Acara reses yang produktif itu pun diakhiri dengan berbuka puasa bersama dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan khas bulan Ramadhan.
Sore yang teduh di Kalisat itu menjadi bukti nyata bahwa Ketua Komisi B hadir bukan hanya di ruang rapat, tetapi juga di tengah denyut nadi masyarakat, siap mendengar berbagai aspirasi dari semua kalangan, sekaligus mempererat tali silaturahmi di bulan yang suci. (rup/mmp-jbr)






