Klenteng Welahan Gelar Perayaan Cap Go Meh, Toleransi Harmoni Imlek Nusantara Gelar Wayang Kulit.
Jepara-Jawa Tengah || Mediamabespolri.com // Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 2026 kembali menjadi momentum penguatan persatuan dalam keberagaman. Dengan mengusung tema “Harmoni Imlek Nusantara”.
Rangkaian perayaan Imlek hingga Cap Go Meh diharapkan menjadi ruang temu budaya, tradisi, dan nilai kebersamaan lintas etnis serta agama yang dilaksanakan di Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Kabupaten Jepara. Selasa (3/3/2026) sore.
Yayasan Pusaka Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan meriahkan Imlek 2577 disambut dengan beragam kegiatan budaya, mulai dari sembahyang di kelenteng, pertunjukan barongsai dan Rebana, hingga pagelaran seni wayang kulit yang melibatkan komunitas lintas budaya.
Semangat kebersamaan tersebut mencapai puncaknya pada perayaan Cap Go Meh, sekitar dua pekan setelah Imlek, yang dikenal sebagai simbol penutup rangkaian Tahun Baru Tionghoa.
Ketua Yayasan Pusaka Klenteng Hian Thian Siang Tee, Dicky Sugandhi mengatakan, tema ‘Harmoni Imlek Nusantara’ merefleksikan wajah Indonesia sebagai bangsa majemuk, di mana tradisi Tionghoa tumbuh dan berakulturasi dengan budaya lokal.
“Perayaan Imlek dan Cap Go Meh kerap berpadu dengan unsur seni dan adat setempat, menciptakan perayaan yang inklusif dan terbuka untuk masyarakat luas,” kata Dicky.
Ia juga menegaskan, bahwa tema umum ini dipilih untuk menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
“Imlek bukan hanya milik etnis Tionghoa, tetapi telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Harmoni Imlek Nusantara adalah pesan bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan bangsa,” tambahnya.
Dicky menambahkan, Perayaan Imlek dan Cap Go Meh bukan hanya sekadar tradisi, tetapi momentum untuk menjaga nilai kekeluargaan, syukur, dan kebersamaan. Semangat Harmoni Imlek Nusantara kini dirasakan oleh semua elemen masyarakat, bukan hanya Tionghoa saja.
“Melalui perayaan Imlek dan Cap Go Meh 3/3/2026, masyarakat kembali diingatkan bahwa perbedaan budaya justru menjadi jembatan untuk mempererat kebersamaan dalam bingkai Harmoni Imlek Nusantara,” ujarnya.
Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan budaya yang menjadi penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Acara ini tidak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga simbol harmoni budaya yang kaya di Indonesia.
Kemeriahan perayaan tradisi Cap Go Meh di Klenteng Welahan mendapatkan sentuhan lokal yang khas, dengan pengaruh budaya Jawa dan Tionghoa yang hidup berdampingan dengan baik.
Hal ini menciptakan suasana yang unik, di mana perayaan ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi dirayakan bersama oleh masyarakat dari berbagai latar belakang penuh toleransi beragama.
Perayaan Cap Go Meh di klenteng welahan adalah cerminan nyata dari harmoni dalam keberagaman. Tidak hanya komunitas Tionghoa yang terlibat, namun juga masyarakat luas.
Mereka bekerja sama dalam persiapan, pelaksanaan, dan bahkan ikut meramaikan acara. Ini menunjukkan semangat gotong royong dan toleransi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kabupaten Jepara.
Rangkaian perayaan Cap Go Meh diawali dengan sembahyang Cap Go Meh di Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan pada pukul 10.00 WIB.
Kemudian dilanjut pagelaran wayang kulit Ki warko Gunacarito (Dalang Waroto,) pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB.dengan lakon Sri Sadono yang berasal dari Kendeng Sidialit Welahan Jepara.
Atraksi Barongsai dan Rebana kirab keliling Pecinan Welahan pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB dengan baik penuh semangat toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
Lalu Buka bersama masyarakat sekitar Kelenteng dengan makanan khasnya lontong Cap Go Meh melibatkan ratusan warga setempat pukul 18.00 WIB.
Rangkaian acara Cap Go Meh ditutup pagelaran wayang kulit bersama Ki Dalang Waroto pukul 20.00 WIB hingga 04.00 WIB dengan judul Pandawa Tani dengan maksud untuk mendapatkan wahyu sandang pangan.
Reporter : Hani K






