Jagat Maya Heboh! Video Penolakan Cafe JDEYO di Cisoka Banjir Dukungan, Warga Soroti Legalitas dan Dampak Lingkungan
www.mediamabespolri.com
Kabupaten Tangerang, Banten – Gelombang penolakan terhadap keberadaan Billiard dan Cafe JDEYO di Kampung Saga, Desa Caringin, Kecamatan Cisoka, terus meruncing. Rabu (22/04/206).
Tak hanya terganjal isu legalitas perizinan yang diduga masih remang-remang, tempat usaha ini kini berada di tengah pusaran kemarahan publik setelah sebuah video aksi penolakan oleh para tokoh agama viral di jagat maya.
Sebuah video berdurasi 26 detik yang diunggah oleh akun TikTok @aa_cecep_baskara mendadak menjadi buah bibir.
Dalam tayangan tersebut, puluhan warga bersama para ulama Desa Caringin dengan tegas menyuarakan penolakan mereka.
“Kami dari warga Desa Caringin, beserta tokoh masyarakat dan para ulama, menolak keras tempat usaha Billiard dan Cafe yang ada di Kampung Saga! Kami menolak! Menolak! Takbir!” seru narasi dalam video tersebut yang disambut sahutan takbir yang menggema.
Pantauan di kolom komentar menunjukkan dukungan masif dari netizen.
Akun @hehenn8352 menuliskan, “Maju terus, bubarkan. Permainan bilyard identik dengan perjudian,” sementara akun lain seperti @313cisoka memuji kekompakan para ulama Caringin yang dinilai cepat merespons keresahan warga.
Di balik gemerlap lampu cafe, tersimpan cerita pilu yang dialami oleh Abah Jaya (alias Bram) dan istrinya, Suarsih.
Pasangan lansia yang tinggal tepat di samping bangunan JDEYO ini harus menanggung trauma mendalam.
Rumah mereka nyaris hancur setelah tertimpa pohon yang roboh dari area bangunan cafe tersebut.
Hingga saat ini, Abah Jaya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut tanpa tarif tetap itu, terpaksa harus menumpang tidur di tempat lain.
Ketakutan akan tembok cafe yang rawan roboh serta kondisi atap rumah yang lapuk membuat mereka tak lagi merasa aman di rumah sendiri.
Ironisnya, alih-alih mendapatkan kompensasi perbaikan rumah yang layak, Abah Jaya justru “diberdayakan” sebagai juru parkir di area yang menjadi sumber masalah bagi rumahnya.
Langkah pengusaha ini memicu kritik tajam; apakah ini bentuk tanggung jawab sosial, atau sekadar upaya membungkam keluhan warga kecil dengan memberikan pekerjaan yang mengandalkan belas kasihan?
Polemik ini kian panas setelah munculnya narasi bantahan dari pihak pemilik Billiard dan Cafe JDEYO.
Namun, klaim sepihak tersebut dinilai lemah karena tidak dibarengi dengan bukti data primer seperti dokumen PBG maupun sertifikat izin operasional yang transparan.
Cisoka bukan sekadar wilayah administratif; ini adalah tanah yang kental dengan nilai religius, tempat di mana pengaruh tokoh besar seperti Abuya KH Yusuf Caringin sangat dihormati.
Di wilayah ini, etika bertetangga dan adab dalam berusaha memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding sekadar urusan komersial.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah.
Masyarakat mulai mempertanyakan: apakah harga diri regulasi pemerintah akan terus diabaikan oleh oknum pengusaha, ataukah suara masyarakat yang akan bergerak lebih jauh jika penindakan tegas tak kunjung dilakukan?
Kejujuran administratif dan rasa kemanusiaan kini sedang diuji di Desa Caringin. Apakah JDEYO akan tunduk pada aturan, atau justru menjadi pemicu ledakan amarah massa yang lebih besar?
Redd,”( Ahmad.S.A.MMP )






