Atraksi Silat Dor Meriahkan Baiat Santri Baru Pagar Nusa, Teguhkan Tradisi dan Spirit Ke-NU-an

BANYUWANGI mediamabespolri.com –  Suasana khidmat sekaligus meriah menyelimuti prosesi baiat ratusan santri baru Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa PAC Tegaldlimo, Banyuwangi. Kegiatan yang dipusatkan di Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Selasa malam (31/3/2026), tidak hanya menjadi momentum pengesahan anggota baru, tetapi juga perwujudan pelestarian tradisi, penguatan spiritualitas, dan peneguhan nilai-nilai ke-NU-an melalui atraksi budaya khas Silat Dor.

Acara yang digelar oleh Padepokan Sholawat Banyuwangi ini diawali dengan Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hanbalangi wal-Khitoh Indonesia, dipimpin langsung oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha selaku mursyidul ‘am. Dzikir yang berlangsung sejak pukul 21.00 WIB tersebut menjadi pondasi spiritual, memohon keselamatan bangsa dan negara.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka), di antaranya perwakilan Kapolsek Tegaldlimo melalui Kanit Intelkam Aiptu Hadi Santoso, jajaran Koramil 0825/09 Tegaldlimo yang dipimpin Kapten Inf. Edi Supriono, serta tokoh-tokoh penting Pagar Nusa dan para ulama.

Hadir pula Ketua PSNU Pagar Nusa PAC Tegaldlimo Supriyanto, S.Pd, Ketua Panitia Luky Wahyu Ramadan, Sekretaris Irgi Ahmad Vanesa, Ketua Padepokan Sholawat Fuad Kumala, serta Dewan Khos Jawa Timur Gus Ali yang bertindak sebagai pembaiat.

Sebanyak 201 santri secara resmi dibaiat setelah menjalani proses pendidikan dan gemblengan selama kurang lebih dua tahun, meliputi penguasaan teknik pencak silat, penguatan mental spiritual, hingga pembinaan karakter kebangsaan.

Ketua PSNU Pagar Nusa PAC Tegaldlimo, Supriyanto, S.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya memperkuat ukhuwah, konsolidasi organisasi, serta membangun karakter generasi muda yang tangguh dan berakhlak.

“Para santri yang telah dibaiat diharapkan mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh, tidak hanya dalam dunia persilatan, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka harus memiliki kepedulian sosial dan semangat cinta tanah air,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antarperguruan pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, sekaligus memperkokoh peran Pagar Nusa sebagai benteng budaya dan moral.

Puncak acara semakin semarak dengan penampilan atraksi Silat Dor yang memukau ribuan hadirin. Atraksi tersebut menjadi simbol keberanian, ketangkasan, sekaligus warisan budaya lokal yang terus dijaga keberlangsungannya oleh generasi muda Nahdliyin.

Dalam tausiahnya, KH. Fathulloh Suyuti Thoha menyampaikan pesan kebangsaan yang kuat, menekankan pentingnya persatuan, silaturahmi, dan gotong royong sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, kekuatan bangsa terletak pada sinergi antara rakyat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “TNI bersama rakyat, rakyat bersama TNI. TNI untuk rakyat,” tegasnya, menggambarkan hubungan erat yang harus terus dijaga demi ketahanan nasional.

Ia berharap nilai-nilai kebersamaan, kedamaian, dan persatuan tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Pagar Nusa tidak hanya berperan sebagai organisasi pencak silat, tetapi juga sebagai wadah pembinaan generasi muda yang berkarakter, religius, dan nasionalis, sekaligus penjaga tradisi dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi

(Andoyo)