UNIMEN dan UHO Dorong Petani Kakao Mata Allo Enrekang Naik Kelas melalui Teknologi Pengolahan dan Pemasaran Digital

UNIMEN dan UHO Dorong Petani Kakao Mata Allo Enrekang Naik Kelas melalui Teknologi Pengolahan dan Pemasaran Digital

ENREKANG, 2 NOVEMBER 2026, mediamabespolri.com – Petani kakao di Desa Mata Allo, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, didorong untuk tidak lagi bergantung pada penjualan biji kakao kering. Melalui penerapan teknologi pengolahan dan pemanfaatan pemasaran digital, komoditas kakao kini diarahkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Upaya tersebut dilakukan Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) bersama Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Program Kosabangsa 2026 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).

Program bertajuk “Hilirisasi Produk Olahan Kakao melalui Penerapan Teknologi Natural-Based Alkalization dan Pemasaran Digital untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat Desa Mata Allo Enrekang” ini hadir untuk menjawab persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat penghasil kakao, yakni keterbatasan kemampuan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah serta sulitnya menjangkau pasar yang lebih luas.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Natural-Based Alkalization, yaitu teknik pengolahan biji kakao dengan memanfaatkan bahan alkali alami. Teknologi ini diarahkan untuk menghasilkan bubuk kakao dengan warna lebih baik, tingkat keasaman lebih rendah, serta cita rasa yang lebih seimbang dan konsisten.

Bagi masyarakat Desa Mata Allo, penerapan teknologi tersebut membuka peluang pengembangan usaha yang tidak lagi terbatas pada penjualan biji kakao mentah. Bahan baku yang selama ini dipasarkan dalam bentuk kering diharapkan dapat diolah menjadi produk dengan karakteristik dan nilai jual lebih kompetitif.

Untuk menunjang proses produksi, program ini menyiapkan sejumlah peralatan pengolahan, antara lain mesin sangrai, mesin pemecah dan pemisah kulit biji, oven, mesin penggiling kakao, mesin press hidraulik, serta hammer mill.

Pengadaan peralatan tersebut juga disertai penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanganan pascapanen dan pengolahan agar proses produksi berjalan lebih terarah, terukur, dan menghasilkan produk berkualitas.

Program ini melibatkan dua kelompok masyarakat sebagai mitra utama, yakni Kelompok Tani Salu Bendo’ dengan 19 anggota dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Hadi yang beranggotakan 20 orang. Kedua kelompok tersebut diarahkan mengambil peran berbeda tetapi saling melengkapi dalam membangun usaha kakao berbasis potensi lokal.

Keterlibatan perempuan menjadi salah satu perhatian penting dalam program tersebut. KWT Al Hadi diarahkan untuk mengembangkan diversifikasi produk, identitas merek, desain kemasan, hingga promosi dan pemasaran digital.

Dengan demikian, peran perempuan tidak hanya terbatas pada proses pengolahan, tetapi juga diperluas ke aspek pengembangan produk dan pengelolaan pasar. Keterampilan tersebut diharapkan membuka peluang usaha produktif sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam aktivitas ekonomi desa.

Ketua Kelompok Tani Salu Bendo’, Sopian, S.Pd., menyambut baik pendampingan yang diberikan kepada para petani. Ia berharap pengetahuan dan teknologi pengolahan yang diperkenalkan dapat membantu kelompoknya mengembangkan hasil kakao agar tidak hanya dijual dalam bentuk biji kering.

Harapan serupa disampaikan Ketua KWT Al Hadi, Nida Wahyuni. Menurutnya, keterampilan pengolahan perlu diikuti dengan kemampuan mengemas dan memasarkan produk secara menarik agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Penguatan produksi dalam program ini juga berjalan beriringan dengan pengembangan pemasaran digital. Masyarakat didorong membangun identitas merek, desain kemasan, akun media sosial bisnis, toko pada marketplace, serta laman digital yang terintegrasi dengan berbagai kanal pemasaran.

Strategi tersebut diharapkan membuat produk kakao Desa Mata Allo memiliki identitas yang lebih kuat dan tidak lagi hanya bergantung pada pemasaran konvensional. Akses pasar digital juga membuka peluang bagi produk lokal untuk dikenal konsumen di luar Kabupaten Enrekang.

Program K