Muspicam Seberuang Mediasi Konflik Dampak PETI, Tekankan Penghentian Aktivitas di Musim Kemarau

Kapuas HuluMediamabespolri.com, Upaya mencari solusi atas dampak aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terhadap masyarakat terus dilakukan. Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Seberuang memediasi pertemuan antara masyarakat yang terdampak aktivitas PETI dengan para pekerja PETI, Rabu (12/8/2026).

Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di Polsek Seberuang tersebut dihadiri Camat Seberuang Fransiskus, S.Sos., Kapolsek Seberuang Ipda Agung Herlambang, Danramil Seberuang Serka Agustiono, Kepala Puskesmas Seberuang Romanus, Kasi Trantib Kecamatan Seberuang Joni Riti, tokoh adat, para kepala desa, perwakilan organisasi masyarakat, serta perwakilan pekerja PETI.

Kapolsek Seberuang Ipda Agung Herlambang yang bertindak sebagai moderator menyampaikan bahwa pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan solusi yang baik bagi kedua belah pihak. Ia menekankan bahwa aktivitas PETI di bagian hulu sungai dapat memberikan dampak kepada masyarakat di wilayah hilir, terutama melalui pencemaran air dan kerusakan ekosistem.

“Para pekerja PETI yang tidak memiliki izin sudah tentu melanggar ketentuan hukum yang berlaku dan aktivitas tersebut dapat berdampak terhadap pencemaran lingkungan serta ekosistem Sungai Seberuang,” tegasnya.

Camat Seberuang Fransiskus, S.Sos., mengajak seluruh pihak menyikapi persoalan tersebut dengan kepala dingin dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Menurutnya, permasalahan PETI bukan persoalan baru dan diperlukan sinergi antara pemerintah kecamatan, TNI, Polri, serta masyarakat untuk mencari penyelesaian terbaik.

Ia juga menjelaskan bahwa aktivitas PETI di wilayah hulu Sungai Seberuang berdampak terhadap masyarakat yang mengandalkan sungai sebagai sumber air, terlebih di tengah kondisi musim kemarau berkepanjangan.

Dampak pencemaran air juga menjadi perhatian dari sektor kesehatan. Kepala Puskesmas Seberuang Romanus menyampaikan bahwa kondisi air sungai yang keruh dan kotor dikhawatirkan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Ia menyebut adanya peningkatan keluhan diare, khususnya masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Seberuang, serta menegaskan bahwa kondisi air saat ini tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, masyarakat yang terdampak menyampaikan keresahan karena pencemaran Sungai Seberuang dinilai telah mengganggu berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari kebutuhan air bersih, kegiatan belajar anak-anak, hingga aktivitas masyarakat yang bergantung pada sungai untuk mencari ikan.

Perwakilan masyarakat juga menyampaikan penolakan terhadap aktivitas di bagian hulu sungai yang menyebabkan pencemaran. Masyarakat meminta agar persoalan tersebut mendapatkan tindak lanjut secara tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Di sisi lain, perwakilan pekerja PETI dari Nanga Nyawa menyampaikan bahwa aktivitas tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan mereka. Mereka meminta adanya solusi terkait aktivitas pekerjaan, namun tetap menyatakan kesiapan menghadapi proses hukum apabila melakukan pelanggaran.

Menanggapi hal tersebut, Danramil Seberuang menegaskan bahwa persoalan harus diselesaikan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara luas. Mengingat kondisi musim kemarau, ia berharap aktivitas PETI dapat dihentikan untuk mencegah semakin parahnya dampak terhadap masyarakat dan Sungai Seberuang.

Dalam pertemuan tersebut belum diperoleh kesepakatan antara kedua belah pihak karena masing-masing masih menyampaikan argumen dan kepentingannya. Namun, Muspika Seberuang menegaskan tidak mengizinkan aktivitas PETI, khususnya di tengah kondisi musim kemarau, karena kegiatan pertambangan tanpa izin bertentangan dengan ketentuan hukum.

Muspika juga mengarahkan apabila masyarakat ingin melakukan kegiatan pertambangan agar menempuh mekanisme perizinan Pertambangan Rakyat sesuai ketentuan yang berlaku dan berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Seberuang.

Selain itu, Muspika Seberuang mengingatkan agar tidak dilakukan pengibaran Bendera Merah Putih setengah tiang secara sepihak sebagai bentuk protes. Pertemuan yang berlangsung hingga pukul 15.15 WIB tersebut berjalan aman, lancar, dan kondusif.

Melalui kegiatan mediasi ini, Muspika Seberuang berharap seluruh pihak dapat mengedepankan komunikasi, menjaga keamanan dan ketertiban, serta bersama-sama menjaga kelestarian Sungai Seberuang yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Red/Endipriyono

Sumber/Humas