*Mantan Aktivis PP-KPMP Pinrang Soroti Dampak Bendungan PLTA Bakaru*

Enrekang, mediamabespolri.com – Kepala Desa Cemba, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang JUMADI, yang juga merupakan mantan aktivis dan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang (PP-KPMP) periode 2008–2011, menyoroti dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan PLTA Bakaru terhadap masyarakat di wilayah sekitar.

Hal tersebut disampaikan Jumadi saat diwawancarai langsung oleh awak media di kediamannya, pada Sabtu (20/6/2026).

Dalam keterangannya, Jumadi mengakui bahwa PLTA Bakaru selama ini memiliki peran penting sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar di Sulawesi Selatan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas.
Namun, perlu dipahami bahwa keberadaan Bakaru juga memiliki dampak yang sangat besar terhadap masyarakat kami di sekitar wilayah ini,” ujar Jumadi.

Menurutnya, saat pintu air PLTA dibuka, debit air dari kawasan pegunungan meningkat dan mengalir deras ke Sungai Saddang yang mengakibatkan Erosi Hidrolik dan Kondisi tersebut kerap menyebabkan luapan air yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Ketika pintu air dibuka, air bah dari pegunungan meluap ke Sungai Saddang. Akibatnya, banyak ternak masyarakat yang mati dan warga mengalami kerugian cukup besar,” ungkapnya.

Ia menegaskan, sebelum adanya rencana pembangunan pembangkit PLTA baru, persoalan dampak yang ditimbulkan oleh PLTA Bakaru yang telah beroperasi selama ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah dan pihak terkait.

“PLTA Bakaru yang lama saja sudah banyak menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Karena itu, dampak sosial dan ekonomi terhadap warga harus benar-benar dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan PLTA baru,” tegasnya.

Jumadi juga mempertanyakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLTA Bakaru terhadap masyarakat yang terdampak langsung.

“Selama ini masyarakat bertanya-tanya, di mana CSR dari PLTA Bakaru. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak merasa belum mendapatkan perhatian yang maksimal, padahal kami yang paling merasakan dampak dari operasional PLTA tersebut,” katanya.

Menurutnya, masyarakat berharap pihak pengelola PLTA Bakaru dapat lebih memperhatikan warga di wilayah terdampak, terutama melalui program-program pemberdayaan dan bantuan yang benar-benar dirasakan manfaatnya.

“Jangan sampai masyarakat hanya menerima dampak negatif, sementara manfaat sosial bagi warga terdampak belum dirasakan secara nyata. Kami berharap ada program CSR yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Sebagai mantan aktivis pergerakan Mahasiswa dan juga Kader HMI akan mengkonsolidasikan gerakan masyarakat untuk melakukan aksi kalau perlu kita duduki bendungan Bakaru, ujar Jumadi saat kami mewawancarai di rumah kediamannya.

Sedikitnya terdapat lima desa yang selama ini terdampak oleh luapan air akibat operasional PLTA Bakaru, yakni Desa Tallu Bamba, Desa Temban, Desa Tungka, Desa Cemba dan Desa Karueng.

Masyarakat di lima desa tersebut berharap pemerintah dan pihak pengelola PLTA Bakaru dapat memberikan perhatian lebih terhadap dampak yang dirasakan warga, termasuk upaya mitigasi serta solusi untuk meminimalisir kerugian masyarakat di masa mendatang. Redaksi ( Yd )