Kesalahan Operasional Diduga Picu Kelangkaan Solar di SPBU Sungai Besar, Bukan Penyelewengan
Kapuas,Hulu // Mediamabespolri.com – Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kembali memicu keresahan publik. Kali ini, peristiwa terjadi di SPBU 65.787.006 PT. Boyan Budi Bersama, yang berlokasi di Desa Sungai Besar, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.Sabtu, 8 November 2025
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan antrean panjang kendaraan dan laporan bahwa solar mendadak habis di SPBU tersebut. Kejadian ini sontak menimbulkan tanda tanya publik mengenai distribusi dan pengelolaan stok bahan bakar.
Namun, berdasarkan klarifikasi dari salah satu karyawan SPBU, penyebab kekosongan solar bukan akibat penyelewengan atau pemotongan jatah distribusi, melainkan kesalahan operasional internal, khususnya dalam proses pengisian dan pencatatan data harian.
> “Tidak ada pengalihan stok atau permainan jatah. Ini murni karena kesalahan input dan perbedaan data antara stok fisik dan laporan harian,” ujar salah satu karyawan SPBU saat dikonfirmasi awak media, Jumat (7/11).
Kesalahan Teknis Jadi Pemicu
Dalam operasional SPBU, keseimbangan antara stok fisik, data transaksi, dan laporan harian merupakan aspek krusial. Kesalahan kecil dalam pencatatan atau pengisian dapat menimbulkan perbedaan volume yang signifikan.
Sebagai contoh, jika petugas salah memasukkan angka penjualan — mencatat 3.000 liter padahal telah keluar 5.000 liter — maka sistem akan menampilkan stok masih tersedia, padahal tangki sudah kosong.
Kondisi ini menyebabkan “kelangkaan mendadak” yang sering disalahartikan publik sebagai kekurangan pasokan atau dugaan penyelewengan. Dalam kasus SPBU Sungai Besar, kesalahan administratif inilah yang disebut menjadi penyebab utama.
Dampak ke Masyarakat dan Ekonomi Lokal
Keterlambatan distribusi solar berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor pertanian, perikanan, dan transportasi darat yang sangat bergantung pada solar.
Bagi warga di Kecamatan Bunut Hulu, setiap gangguan pasokan BBM dapat memicu efek domino berupa keterlambatan panen, meningkatnya ongkos logistik, hingga terganggunya roda ekonomi desa.
Langkah Perbaikan dan Pengawasan
Menanggapi insiden ini, pihak pengelola SPBU 65.787.006 diharapkan segera melakukan pembenahan sistemik, di antaranya:
1. Pelatihan ulang karyawan terkait prosedur pengisian digital dan pencatatan transaksi harian.
2. Penerapan sistem sensor otomatis untuk memantau volume tangki dan meminimalkan kesalahan input manual.
3. Verifikasi ganda (cross-check) antara data fisik dan laporan digital sebelum diserahkan setiap hari.
Selain itu, Pertamina dan BPH Migas diimbau meningkatkan pengawasan berbasis data terhadap distribusi SPBU di daerah terpencil. Sistem pemantauan yang mampu mendeteksi anomali volume sejak dini akan menjadi benteng penting untuk mencegah keresahan publik di kemudian hari.
Kesimpulan
Klarifikasi dari pihak SPBU PT. Boyan Budi Bersama menegaskan bahwa insiden kelangkaan solar di Sungai Besar bukanlah bentuk penyelewengan, melainkan murni kesalahan operasional internal.
Meski demikian, kejadian ini menjadi cermin penting bagi manajemen SPBU di daerah agar memperkuat kontrol data dan sistem pengawasan internal.
Keandalan distribusi BBM, terutama di wilayah perbatasan dan pedalaman seperti Kapuas Hulu, merupakan faktor vital bagi stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik.
Red/Hasan






