Sosialisasi Tes Perangkat Desa Sukodono Ricuh Warga Tolak Ujian Digelar Diluar Jawa Tengah
Demak — Mediamabespolri.com//Kegiatan sosialisasi pelaksanaan tes calon perangkat Desa Sukodono tahun 2026 berlangsung ricuh setelah sejumlah warga dan calon peserta menolak rencana pelaksanaan ujian yang dijadwalkan digelar di universitas luar Jawa Tengah.
Kericuhan terjadi saat forum sosialisasi berlangsung di Aula Balai Desa Sukodono, Kecamatan Bonang Kabupaten Demak- Jawa Tengah, Jum’at 15/05/2026 Sejumlah warga dan calon peserta langsung menyampaikan penolakan setelah panitia mengumumkan lokasi pelaksanaan tes berada di Cirebon, Jawa Barat.

Mereka menilai pelaksanaan ujian di luar Jawa Tengah tidak efisien dan memberatkan peserta, baik dari sisi biaya, waktu, maupun faktor keselamatan perjalanan.
“Yang pertama keselamatan, yang kedua terkait biaya, yang ketiga terkait waktu. Itu sangat membahayakan dan membuat was-was para calon, karena rencana tes berlangsung pada hari Senin tanggal 18 besok,” ujar salah satu warga Sukodono, Abu, usai forum sosialisasi.
Abu mempertanyakan alasan panitia tidak memilih perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah sebagai lokasi pelaksanaan ujian. Menurutnya, banyak universitas di Jawa Tengah yang memiliki kualitas dan rekam jejak baik dalam penyelenggaraan tes perangkat desa.
“Contohnya seperti Unsoed Purwokerto, itu sangat bagus track record-nya dan kualitas universitas maupun laboratoriumnya juga baik. Kenapa tidak dipilih oleh panitia?” katanya.
Ia juga mengaku kecewa terhadap keputusan panitia dan meminta aspirasi masyarakat benar-benar diperhatikan.
“Masyarakat sangat kecewa dengan keputusan panitia. Mohon diperjelas nanti, apabila ada panitia yang tidak mengakomodasi aspirasi masyarakat, mohon bisa dievaluasi untuk tahapan selanjutnya,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, sedikitnya enam orang secara langsung menyampaikan penolakan terhadap lokasi ujian di Jawa Barat. Sementara jumlah calon peserta yang hadir disebut sekitar 10 orang.
“Kurang lebih ada enam orang yang menolak, sedangkan calon peserta sekitar 10 orang,” ujarnya.
Selain persoalan lokasi ujian, forum juga diwarnai munculnya isu dugaan praktik titipan dan setoran uang dalam proses pengisian perangkat desa. Menanggapi hal itu, Abu mengaku menerima informasi dari masyarakat yang menurutnya sudah menjadi pembicaraan umum.
“Sudah ada keterangan. Kebetulan dari teman saya juga ada rekaman maupun video terkait orang yang pernah merasa dikecewakan, mungkin dari pihak panitia maupun kepala desa,” ungkapnya.
Meski demikian, ia berharap proses pengisian perangkat desa tetap berjalan transparan dan menghasilkan perangkat desa yang berkualitas.
“Saya menginginkan perangkat desa yang berkualitas, mempunyai karakter, nasionalisme, dan peduli kepada masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pengisian Perangkat Desa Sukodono, Muhdori, enggan memberikan banyak komentar terkait penolakan warga dan calon peserta terhadap pelaksanaan ujian CAT di universitas luar Jawa Tengah.
“Pihak keluarga yang menyampaikan aspirasi atau usulan sudah kami tanggapi. Hanya itu yang bisa saya sampaikan,” ujarnya singkat sambil meninggalkan Balai Desa Sukodono.
Redaksi//Mediamabespolri.com
Investigasi
Rilis: Suyono






