JAGALAH DAN SYUKURI DENGAN HATI TULUS. KECMATAN GRATI KBUPATEN PASURUAN
Grati // Di adakan makan. Bersama warga kampung baru kecmatan grati kabupaten pasuruan Malam ini, di hampir semua sudut negeri, rakyat Indonesia berkumpul dan berdoa bersama atas merdekanya negeri ini. Dalam lantunan doa itu, ada keheningan batin yang seharusnya kita jaga: kesadaran bahwa kemerdekaan bukan hanya hadiah sejarah, melainkan amanah Tuhan yang dititipkan kepada kita. Delapan puluh tahun bangsa ini berdiri, dan setiap helai merah putih yang berkibar seakan berbisik: *“Syukurilah, jangan sia-siakan.”*
Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajah, tapi juga kebebasan dari belenggu diri—dari kebencian, iri, tamak rakus, dan kesombongan yang merusak persaudaraan. Tasyakuran malam ini seharusnya tak hanya menjadi rutinintas belaka, tetapi juga refleksi dan doa kita bersama. Doa agar bangsa ini tetap utuh dalam perbedaan, agar setiap diri diisi kedamaian, dan agar hati kita senantiasa lapang untuk saling memaafkan. Dan di tengah cahaya lampu hias yang sederhana, mari kita tundukkan kepala, bersyukur dengan tulus. Sebab, sejatinya, yang kita rayakan bukan sekadar
umur bangsa, melainkan kesempatan dari Tuhan untuk terus memperbaiki diri. Kemerdekaan akan bermakna jika kita belajar merdeka dari keserakahan, kebenciaan, dan menggantinya dengan cinta, kepedulian serta kasih kepada sesama menuju keadilan bagi sel bangsa. Itulah hakikat syukur yang sesungguhnya—sebuah perayaan sunyi di dalam jiwa, yang jauh lebih indah daripada gemerlap pesta di luar sana.
Redaksi//
Mediamabespolri.com
(Investigasi)







